Pemerintah Kabupaten Buleleng terus memperkuat upaya peningkatan kesehatan
ibu dan anak melalui Rapat Koordinasi Implementasi Jejaring Layanan Gizi,
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), serta Kesehatan Reproduksi (Kespro) yang digelar
di Ruang Meeting Lovina Haven, Selasa (28/4).
Rapat koordinasi ini dibuka oleh Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten Buleleng yang menegaskan bahwa kesehatan ibu, bayi, dan
balita masih menjadi prioritas utama daerah. Hingga April 2026, tercatat lima
kasus kematian ibu. Sementara itu, angka kematian bayi menunjukkan tren
penurunan dari 102 kasus menjadi 82 kasus, dengan 21 kasus tercatat pada tahun
ini. Prevalensi stunting juga mengalami penurunan hingga mencapai 6,2 persen.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih
dihadapi, di antaranya rendahnya cakupan skrining calon pengantin serta
keterbatasan sarana pelayanan keluarga berencana (KB). Untuk itu, pemerintah
daerah berkomitmen meningkatkan kualitas layanan kesehatan, memperkuat sistem
rujukan, serta mendorong sinergi lintas sektor.
Dalam sesi pemaparan, Ketua TP PKK Kabupaten
Buleleng Ny. Ida Ayu Wardhany Sutjidra menekankan pentingnya kolaborasi antara
PKK, tenaga kesehatan, dan pemerintah. Posyandu disebut sebagai ujung tombak
pelayanan kesehatan masyarakat. Penguatan peran kader, integrasi data
dasawisma, serta penerapan lingkungan sehat di tingkat desa menjadi strategi
utama dalam mendukung program tersebut.
Dari sisi perencanaan, Bappeda Kabupaten
Buleleng melalui Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia, Arya G
Mataram menyampaikan dukungan anggaran melalui pemanfaatan Dana Alokasi Khusus
(DAK) Nonfisik. Anggaran tersebut diarahkan untuk menekan angka kematian ibu
(AKI), angka kematian bayi (AKB), serta stunting melalui penguatan layanan KIA,
KB, dan jejaring fasilitas kesehatan. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan
akses dan kualitas layanan sekaligus memastikan pemantauan sasaran berjalan
optimal menuju generasi sehat Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, BPJS Kesehatan memaparkan peran
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam mendukung layanan maternal dan
neonatal, termasuk pelayanan antenatal care (ANC), persalinan, serta skrining
kesehatan lintas usia. Di Kabupaten Buleleng, saat ini telah tersedia jejaring
fasilitas kesehatan yang terdiri dari lima puskesmas, sembilan rumah sakit
umum, satu rumah sakit ibu dan anak, dua klinik, serta 47 praktik mandiri bidan
(PMB).
Paparan juga disampaikan oleh Puskesmas
Tejakula I yang menyoroti berbagai intervensi terintegrasi di lapangan.
Kegiatan tersebut meliputi pemberian makanan tambahan (PMT) untuk penyuluhan
dan pemulihan, kunjungan rumah bagi ibu hamil dan balita dengan masalah gizi,
rujukan kasus, serta peningkatan kapasitas kader posyandu melalui pelatihan.
Rapat koordinasi ditutup dengan sesi diskusi
yang menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antar pemangku kepentingan
guna memastikan implementasi program berjalan efektif dan berdampak nyata bagi
masyarakat.
Dengan
berbagai langkah strategis tersebut, Kabupaten Buleleng optimistis dapat terus
menekan angka kematian ibu dan bayi serta menurunkan prevalensi stunting secara
berkelanjutan.