(0362) 21149
bappeda@bulelengkab.go.id
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Kabupaten Buleleng Perkuat Jejaring Layanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), serta Kesehatan Reproduksi (Kespro)

Admin bappeda | 28 April 2026 | 118 kali

Pemerintah Kabupaten Buleleng terus memperkuat upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak melalui Rapat Koordinasi Implementasi Jejaring Layanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), serta Kesehatan Reproduksi (Kespro) yang digelar di Ruang Meeting Lovina Haven, Selasa (28/4).

Rapat koordinasi ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng yang menegaskan bahwa kesehatan ibu, bayi, dan balita masih menjadi prioritas utama daerah. Hingga April 2026, tercatat lima kasus kematian ibu. Sementara itu, angka kematian bayi menunjukkan tren penurunan dari 102 kasus menjadi 82 kasus, dengan 21 kasus tercatat pada tahun ini. Prevalensi stunting juga mengalami penurunan hingga mencapai 6,2 persen.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, di antaranya rendahnya cakupan skrining calon pengantin serta keterbatasan sarana pelayanan keluarga berencana (KB). Untuk itu, pemerintah daerah berkomitmen meningkatkan kualitas layanan kesehatan, memperkuat sistem rujukan, serta mendorong sinergi lintas sektor.

Dalam sesi pemaparan, Ketua TP PKK Kabupaten Buleleng Ny. Ida Ayu Wardhany Sutjidra menekankan pentingnya kolaborasi antara PKK, tenaga kesehatan, dan pemerintah. Posyandu disebut sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat. Penguatan peran kader, integrasi data dasawisma, serta penerapan lingkungan sehat di tingkat desa menjadi strategi utama dalam mendukung program tersebut.

Dari sisi perencanaan, Bappeda Kabupaten Buleleng melalui Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia, Arya G Mataram menyampaikan dukungan anggaran melalui pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik. Anggaran tersebut diarahkan untuk menekan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), serta stunting melalui penguatan layanan KIA, KB, dan jejaring fasilitas kesehatan. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan akses dan kualitas layanan sekaligus memastikan pemantauan sasaran berjalan optimal menuju generasi sehat Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, BPJS Kesehatan memaparkan peran Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam mendukung layanan maternal dan neonatal, termasuk pelayanan antenatal care (ANC), persalinan, serta skrining kesehatan lintas usia. Di Kabupaten Buleleng, saat ini telah tersedia jejaring fasilitas kesehatan yang terdiri dari lima puskesmas, sembilan rumah sakit umum, satu rumah sakit ibu dan anak, dua klinik, serta 47 praktik mandiri bidan (PMB).

Paparan juga disampaikan oleh Puskesmas Tejakula I yang menyoroti berbagai intervensi terintegrasi di lapangan. Kegiatan tersebut meliputi pemberian makanan tambahan (PMT) untuk penyuluhan dan pemulihan, kunjungan rumah bagi ibu hamil dan balita dengan masalah gizi, rujukan kasus, serta peningkatan kapasitas kader posyandu melalui pelatihan.

Rapat koordinasi ditutup dengan sesi diskusi yang menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antar pemangku kepentingan guna memastikan implementasi program berjalan efektif dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Kabupaten Buleleng optimistis dapat terus menekan angka kematian ibu dan bayi serta menurunkan prevalensi stunting secara berkelanjutan.